Paroki Roh Kudus

Pendirian Gereja I

Home / Sejarah / Pendirian Gereja I

Pendirian Gereja I

Paroki Roh Kudus

Orang Katolik adalah

100% Warga Gereja dan 100% Warga Negara

( Sebuah catatan kenangan oleh Romo Gregorius Kaha, SVD )

 

Hari ini kita berkumpul atas nama kehadiran gereja di tengah masyarakat bangsa dimana agama-agama memperoleh tempat dan perlindungan yang penuh dari negara. Ajaran Gereja Katolik dengan tegas menggariskan komitmen kehadiran gereja : 

'Kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan dari bangsa manusia masa kini, teristimewa yang miskin atau yang dalam cara apapun sengsara, adalah kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus Pula”

(Gaudium et Spes, l)

Konsekuensinya Gereja Katolik harus hadir dan berperan aktif dalam kemajuan pembangunan bangsa dan negara,  dalam kontak dan kerjasama atas nama kepentingan umum. Dalam situasi hidup berbangsa dan bernegara yang  akhir-akhir ini diwarnai dengan hasrat untuk memajukan dan memperjuangkan kepentingan golongan, Gereja  Katolik harus tampil membawah ”Cahaya” yang menuntun dan menyejukan. Oleh karena itu dalam kehadirannya gereja harus selalu dapat menanggapi tantangan-tantangan bersama. Tantangan ini muncul dari situasi lingkungan sekitar, maupun yang timbul dari situasi gereja sendiri. Tidak heran kalau Gereja Katolik Keuskupan Surabaya merumuskan, pendekatan pastoralnya di sini dengan kata-kata ini: "Kita perlu membuka diri dalam dialog kehidupan dan karya dengan semua umat beragama yang ada, serta terus menerus membina persaudaraan sejati dengan semua orang" (Bdk. Visi-Misi Keuskupan Surabaya). Dalam semangat inilah gereja lokal termasuk Gereja Paroki Gembala Yang Baik, berjalan dan terus menerus berdiri sebagai pelaku dan saksi cinta kasih. Karena daya kesaksian hanya bisa punya arti kalau kita amalkan kasih itu dalam kehidupan kita.

Bercermin dari Sejarah Pembangunan Gereja Gembala Yang Baik-Surabaya :

"Kita memang butuh Rumah Ibadat itu!"

Gereja yang berdiri kokoh di Jemur Andayani ini menyimpan banyak cerita. Di antara sekian banyak orang yang disebut dalam kisah-kisah itu, satu yang orang tidak akan lupa yakni kehadiran Pastor J. Heijne, SVD. Misionaris Belanda ini boleh disebut secara khusus karena jasanya dalam pembangunan gereja di wilayah ini.

P Heijne, yang pada bulan April 1970 dipercayakan sebagai Pastor Kepala di gereja Katolik Yohanes Pemandi Wonokromo, mulai melihat kenyataan dan kebutuhan umat yang menyebar di wilayah yang sedemikian luas dalam parokinya. Berdasarkan pengamatan itulah mulai dibuat proses perencanaan pemekaran paroki dan pembangun gereja yang baru. Tanggal 14 Juni 1981, rencana itu mulai di terealisasi dengan peletakan batu pertama oleh Rm. J. Heijne. Dengan ini mulailah pembangunan fisik gereja di Kompleks Jemur Andayani. Pembangunan Gereja yang diwarnai dengan sekian banyak tantangan dan hambatan akhirnya selesai dan diberkati tanggal 14 September 1982, oleh Mgr. Klooster C.M (Saat itu Uskup Surabaya ) dan diresmikan oleh Walikota Surabaya; Drs. Moehadji Widjaja. Gereja yang beralamat di JI. Jemur Andayani X/14 ini diberi nama "Gereja Gembala Yang Baik" mengambil nama "Yesus Kristus: Allah Putra yang memperkenalkan diri sebagai "Gembala Yang Baik" (Bdk. Yoh. )

Jumlah umat yang sedemikian banyak, membuat bangunan gereja yang didesain oleh Ir. Johan Silas tampak kecil. Maka Pastor dan Dewan memutuskan untuk mengadakan 5 kali kebaktian pada hari Minggu. Tingkat kehadiran umat yang tinggi dan lokasi tempat tinggal yang sangat jauh membuat mereka harus memikirkan kembali kemungkinan pemekaran paroki dan pembangunan Rumah Ibadat yang baru sebagai jawaban atas kenyataan ini. Akhirnya sesudah 4 tahun berdirinya Gereja Gembala Yang Baik, rencana itu dimatangkan. Tanggal 12 Juni 1986, terjadi negosiasi pembelian tanah dari PT. Tegalsari Nadi. Dan segara diikuti dengan pembentukan Panitia Pembangunan Gereja yang Baru. Proses perizinan agak alot, tetapi Tuhan memberkati kita, satu tahun kemudian tepatnya tanggal 30 Juli 1987 , keluarlah surat persetujuan pendirian Gereja dari Bupati Sidoarjo. Peletakan batu  pertama, baru pada tgl 14 September oleh P. J Heijne sendiri. Dengan susah payah akhirnya rumah ibadat   itu selesai dibangun dan diresmikan penggunaannya pada tanggal 5 Nopember 1988 oleh Bapak Soegondo,

Bupati Sidoarjo kala itu. Keesokan harinya tanggal 16 November Gereja diberkati oleh Uskup Surabaya, Mgr. A.J. Dibjokarjono, Pr. Gereja yang terletak di perumahan wisma Tropodo. itu diberi nama ''Gereja Salib Suci”, mengambil nama Salib Kristus yang Dia panggul sendiri, yang diatasnya Tubuh Kristus itu dipaku, digantung, dipertontonkan dengan olokan-olokan sadis, lalu ditikam dengan tombak akhirnya wafat demi keselamatan kita umat manusia.