Paroki Roh Kudus

Paroki Roh Kudus

Renungan

Home / Renungan
Paroki Roh Kudus

Stefanus Prajoko Mbendol Mburi

Renungan Hari Minggu Palma Mengenang Sengsara Tuhan / C

Yes 50:4-7 ; Flp 2:6-11 ; Luk 22:1-49

 

Tersebutlah sebuah kisah tentang Bapak Stefanus Prajoko. Bapak Stefanus Prajoko adalah seorang petani di sebuah desa kecil bernama desa Bajul Mlumah, Jember, Jawa Timur. Ia memiliki dua orang putera. Puteranya yang sulung bernama Yakobus Hoka-hoka dan si bungsu bernama Yohanes Bento. Sebagai seorang petani pekerjaan Bapak Stefanus Prajoko banyak dilakukan dengan menggunakan parang. Ketika memotong kayu untuk membuat pagar bagi kebunnya, maka ia menggunakan parangnya. Demikian pula ketika ia membelah bambu untuk mendirikan pondok, maka paranglah yang digunakan. Juga dengan parang yang sama ia biasa memangkas pohon-pohon yang menutupi tanaman jagung dan padi dari sinar matahari. Seringkali bapak Stefanus Prajoko merenung dalam hati : “Syukur kepada Allah bahwa ia memiliki parang warisan dari orang tuanya, apa jadinya kalau tidak ada parang ini, pasti banyak pekerjaan akan terasa berat dan tidak lancar”.

Parang dirasakan oleh pak Stefanus Prajoko sebagai satu alat yang amat membantu dalam hidupnya. Karena itulah parangnya dijaga dengan baik. Parangnya disimpan pada tempat yang aman. Pada waktu tertentu, parangnya diasah agar tetap tajam. Parang sebagai barang yang sangat berharga, melebihi emas permata.

Sampai pada suatu hari anak laki-lakinya yang bungsu Yohanes Bento dengan bergegas berlari menemui pak Stefanus Prajoko yang sedang bekerja di kebun. Ia ingin meminjam parang. Katanya : “Pak, saya mau pinjam parang bapak, saya mau pergi memotong dahan untuk kayu bakar”. Tanpa pikir, bapak Prajoko meminjamkan parang itu kepada Yohanes Bento, lalu anaknya itu pergi. Tidak lama sesudah itu, orang datang dengan berlari-lari memberitahukan kepada pak Prajoko yang sedang di kebun, bahwa kedua anaknya Yakobus Hoka-hoka dan Yohanes Bento berkelahi. Anak yang seorang kena parang dan dalam keadaan gawat. Bapak Stefanus Prajoko berlari cepat ke rumah. Dan rupanya ia terlambat, seorang anaknya, Yakobus Hoka-hoka telah tergeletak, meninggal di lantai di rumahnya. Parang kebanggaan bapak Prajoko tergeletak di samping mayat anaknya. Bapak Stefanus Prajoko meratap dan menyesal karena telah meminjamkan parang kebanggaannya itu. Bapak Stefanus Prajoko Mbendol Mburi.

Parang yang membanggakan, yang telah membantunya dan secara tidak langsung menghidupi anak-anaknya telah dipakai untuk membunuh oleh anaknya sendiri kepada anaknya. Parang telah dipergunakan tidak sebagaimana seharusnya. Parang telah disalah gunakan. Parang telah dipergunakan untuk membunuh.

Saudara, seorang pembuat parang, ketika mengerjakan parang lebih banyak berpikir tentang manfaat yang baik dari parang. Bahwa parang menjadi alat untuk mencelakakan orang lain, untuk membunuh tidak menjadi pikiran pembuat atau penjual parang. Termasuk parang yang dimiliki bapak Stefanus Prajoko Mbendol Mburi.

Ada banyak hal atau barang yang dibuat untuk tujuan baik oleh penciptanya tetapi telah disalah gunakan oleh orang yang menggunakan. Ciuman adalah salah satunya. Ciuman adalah satu tindakan yang baik. Ciuman adalah ungkapan cinta. Orang tua mencium anaknya adalah tindakan ungkapan cinta. Tetapi dalam sejarah umat manusia ciuman sebagai ungkapan dan tanda cinta telah disalah gunakan. Yudas Iskariot, salah seorang murid Yesus adalah orang yang telah menyalah gunakan arti ciuman itu. Ciuman Yudas Iskariot kepada Yesus di taman Zaitun bukanlah ciuman ungkapan dan tanda persahabatan atau cinta, tetapi sebaliknya. Ciuman Yudas Iskariot adalah ciuman pengkhianatan. Ciuman yang dilakukan oleh seorang pengkhianat kepada Gurunya. Kisah sengsara Yesus bermula dari ciuman Yudas Iskariot. Sesudahnya Yesus diborgol, diarak, diludahi, diadili, didera, dipaksa memikul salib, lalu digantung pada salib sampai meninggal.

Cerita pengkhianatan gaya Yudas Iskariot masih berulang sampai sekarang ini. Di balik sesuatu hal atau tindakan yang seharusnya baik, tidak jarang tersembunyi maksud jahat. Tindakan atau hal yang baik digunakan untuk tujuan yang tidak baik. Dewasa ini sering kali kita bisa terkejut. Sebab kita tidak bisa lagi membedakan maksud baik dan maksud jahat. Sepertinya kita selalu melihat Yudas Iskariot sedang mencium Yesus untuk maksud jahat bukan untuk maksud baik. Kita melihat Yudas Iskariot yang lain.

Kita bisa berhadapan dengan orang yang ramah tamah dan penuh hormat tetapi ternyata di belakang itu semua ada maksud jahat. Banyak penipu menggunakan kata-kata manis untuk menjerat orang lain. Banyak orang baik telah jatuh karena kata-kata manis, perbuatan simpatik para penipu. Dan para penipu itu sering kali justru adalah orang-orang kepercayaan, orang yang setiap hari dekat dan bersahabat seperti Yudas Iskariot yang setiap hari dekat dengan Yesus.

Banyak kali jabatan tangan bukan lagi sebagai tanda persahabatan. Mudah memberi salam bukan lagi tanda untuk menjaga hubungan baik. Senyuman manis bukan lagi tanda kedamaian. Ada banyak perbuatan baik yang artinya sudah diputar balikkan.

Ada banyak Yudas Iskariot yang tampil seolah-olah mau berbuat baik. Ada banyak kisah sengsara manusia yang disebabkan oleh perbuatan, kata-kata manis seperti yang dibuat oleh Yudas Iskariot terhadap Yesus.

Saudara, kita tentu tidak suka kalau kisah sengsara Yesus akibat pengkhianatan Yudas Iskariot terulang kembali. Itulah sebabnya setiap perbuatan baik yang kita lakukan haruslah dilakukan murni bukan dengan maksud mencelakakan, tidak seperti ciuman Yudas Iskariot. “Ya, Tuhan jauhkanlah dari aku perbuatan Yudas Iskariot ini”. “Amin”

- Joseph Purwo Tjahjanto, SVD -