Paroki Roh Kudus

Paroki Roh Kudus

Renungan

Home / Renungan
Paroki Roh Kudus

Stevie Agnes Sri Umekwati

Renungan Hari Minggu Biasa XXXII / C

2Mak 7:1-2,9-14 ; 2Tes 2:16-3:5 ; Luk 20:27-38

 

Stevie Agnes Sri Umekwati ialahKetua wilayah Santo Yusuf, Paroki Roh Kudus. Suatu ketika paduan suara wilayahnya, mendapat tugas menyanyi pada hari Jumat Agung. Sebagai ketua wilayah dari wilayah yang baru dibentuk ia merasa bertanggung jawab. Lagi pula kesempatan ini adalah penampilan perdana. Maka sebelum tampil di Gereja ia menyiapkan paduan suaranya dengan sungguh. Kendalanya, tidak banyak anggota wilayah Santo Yusuf yang bisa menyanyi. Namun demikian ia tak mundur sebelum memulai, ia memberi semangat kepada anggota paduan suara untuk tetap berlatih, walau dengan susah payah. Sesudah berlatih beberapa kali, ibu Stevie Agnes Sri Umekwati yakin bahwa paduan suaranya sudah layak tampil. Apalagi didukungi oleh beberapa orang-tua dalam wilayah itu.

Pada waktu paduan suara dari wilayah santo Yusuf menyanyi di Gereja, banyak umat yang kesal. Anggota paduan suara yang bisa menyanyi hanya beberapa orang. Sementara itu anggota yang lain diam-diam saja. Belum lagi mereka yang bisa menyanyi membuat banyak kesalahan. Suasana hening dan khusuk di Gereja menjadi kacau. Pada saat ibadat Jumat Agung banyak orang yang tertawa, sebagian besar orang marah.

Dalam evaluasi sekitar perayaan Pekan Suci dan Paska, paduan suara wilayah santo Yusuf lalu mendapat sorotan. Mereka dikecam karena penampilan paduan suara mereka yang merusak ibadat. Sementara itu, ibu Stevie Agnes Sri Umekwati, ketua wilayah santo Yusuf tidak menerima baik kritikan itu. Dia sangat marah. Menurut dia, Dewan Paroki telah melecehkan usaha paduan suara wilayahnya, yang sudah diusahakannya dengan susah payah. Maka ketika kembali ke wilayahnya, dia meneruskan kritikan itu. Anggota wilayah yang lain merasa tidak puas. Mereka sepakat dan membuat suatu pernyataan resmi. Isi pernyataan itu adalah: tidak bersedia menerima tugas menyanyi di Gereja lagi, kapan saja. Pernyataan itu dikirim kepada Pastor Paroki dan mendesak Pastor Paroki untuk menyampaikannya kepada seluruh umat sebagai pengumuman resmi pada hari Minggu.

Ibu Stevie Agnes Sri Umekwati dan anggota paduan suara wilayah santo Yusuf tidak bisa menerima kritikan dengan jiwa besar. Mereka marah. Hal yang seharusnya tidak mereka lakukan. Seharusnya mereka berterima-kasih karena adanya kritikan. Kritikan itu dipakai sebagai alat pacu untuk menyanyi lebih bagus pada kesempatan yang lain. Mereka harus berpikir tentang pembentukan paduan suara yang tetap, dengan jadwal latihan yang teratur atau mendatangkan pelatih yang baik. Tetapi ibu Stevie Agnes Sri Umekwati dan orang-orang wilayah santo Yusuf terlalu cepat putus asa. Mereka tidak mau belajar dari kesalahan atau kejatuhan.

Ada banyak tantangan yang harus dihadapi dalam kehidupan orang Kristen. Tantangan itu bisa berasal dari dalam Gereja sendiri ataupun dari luar Gereja. Karena itu dari orang Kristen dituntut iman yang dewasa. Orang-orang yang dewasa imannya tidak gampang putus asa apabila mendapat tantangan. Tidak putus asa karena paduan suaranya yang baru pertama kali tampil langsung dihantam dengan kritikan yang pedas. Orang-orang yang imannya dewasa selalu bangkit apabila jatuh dalam kesalahan. Mereka belajar dari kejatuhan.

Orang-orang yang dewasa imannya, bisa mendengar orang lain, bukan hanya menjadi tukang perintah. Karena dengan mendengarkan orang lain, pikirannya, gagasannya menjadi semakin kaya. Hal inilah yang dilakukan oleh orang-orang dari kelompok Saduki. Mereka adalah orang-orang yang tidak pernah mau mendengarkan orang lain. Berkali-kali Yesus berbicara kepada mereka tentang kebangkitan, tetapi mereka tetap tidak mau mendengarnya. Mereka tetap berpikir tentang kebangkitan sesuai dengan pikiran menusiawi mereka yang amat terbatas. Bahkan mereka coba menjerat Yesus dengan suatu cerita yang meragukan kebangkitan. Dan....Yesus memberikan jawaban penjelasan yang tepat. Yesus bisa memberikan jawaban yang benar atas tantangan itu.

Saudara-i, orang-orang Kristen dewasa ini pun sering mengalami tantangan. Orang yang dewasa imannya bisa memberi jawaban yang tepat. Sebaliknya, orang yang tidak dewasa imannya, bisa putus asa, patah semangat apabila imannya ditantang, kebaktiannya ditertawakan.

Semoga kita menjadi orang-orang Kristen yang dewasa dalam iman, kuat dalam percaya, tak putus asa oleh tantangan, teguh akan keyakinan bahwa Kristus telah bangkit dan Kristus juga akan membangkitkan kita. Amin.

 

Oleh : Romo Joseph Purwo Tjahjanto, SVD - Warta Paroki No. 45 / Thn. VI 

- Joseph Purwo Tjahjanto, SVD -