Paroki Roh Kudus

Paroki Roh Kudus

Renungan

Home / Renungan
Paroki Roh Kudus

Setia Dalam Perkara Kecil

Renungan Hari Minggu Biasa XXV / C

Am 8:4-7 ; 1Tim 2:1-8 ; Luk 16:1-13

 

“Barang siapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia akan setia dalam perkara-perkara besar dan barang siapa tidak tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.”

Dalam bacaan-bacaan suci Minggu biasa ke XV hari ini, kita diajak untuk melihat dan memahami tentang apa yang mesti kita lakukan untuk memuliakan Allah. Mengabdi dan memuliakan Allah merupakan panggilan dasar hidup manusia. Pengabdian itu ditunjukkan dengan mengindahkan dan menciptakan situasi tentram, damai dan sejahtera.

Tidak dapat dipungkiri bahwa sangat banyak orang yang memperjuangkan untuk kemuliaan Allah itu. Ada banyak cara yang ditempuh baik melalui pendidikan maupun melalui aneka kegiatan sosial. Orang mengenyam pendidikan setinggi-tingginya agar mampu berpikir kritis dan dengan demikian mampu dengan bijak membaca peluang yang ditawarkan oleh dunia. Ada pula yang aktif dalam berbagai kegiatan karitatif, pelayanan sosial yang bertujuan menolong banyak saudara yang tidak beruntung, mereka yang berkebutuhan khusus, yang miskin dan tersingkirkan. Tentu kita pantas dan wajar memberikan acungan jempol kepada mereka itu, para penggerak dan pemerhati masalah sosial itu.

Namun cita-cita memuliakan Allah melalui aneka cara itu secara tidak sadar sering kali menyandera niat luhur yang dimaksud. Banyak orang yang bersembunyi di balik cita-cita itu untuk tujuan yang kurang terpuji. Dalam praktek, kemuliaan nama Allah diabaikan dan kebesaran nama sendiri dikedepankan. Akibatnya adalah keadaan tidak kunjung membaik, kedamaian tetap sebagai cita-cita, penindasan menjadi pemandangan yang biasa. Sikap kritis sering kali dikuburkan di hadapan tumpukan uang suap. Hasilnya adalah orang kecil tetap tersingkir dan dieksploitasi.

Sabda Amos, mengingatkan kita pada hari ini. Amos dengan tegas mengecam perilaku kaum kaya, para pedagang yang mengejar keuntungan finansial dengan melakukan berbagai kecurangan. Kecurangan ini menghancurkan para pedagang beradab, merugikan para pembeli dan menyingkirkan orang miskin. Menurut Amos, pencarian keuntungan finansial maupun prilaku yang lain wajib mengindahkan nilai-nilai keimanan dan sosial. Godaan untuk menjadikan harta benda sebagai tujuan hidup dan bukan sarana mengabdi Allah membuat orang kehilangan keselamatan.

Injil menuntut kita untuk SETIA. Kesetiaan kita tidak hanya pada hal-hal yang lebih besar, dengan harus berpendidikan tinggi atau mesti menjadi kaya raya. Bagi Yesus, semuanya itu akan kurang berguna jika selalu mengedepankan egoisme, demi kepentingan dan kebanggan diri sendiri. Sebaliknya Yesus meminta kita untuk setia dalam hal-hal kecil dan sederhana. Contoh hal sederhana itu adalah menghormati semua orang tanpa pandang bulu, mesti CERDIK atau cekatan dalam mencari jalan keluar dalam setiap persoalan yang dihadapi baik oleh diri sendiri maupun orang lain, setia dan bertanggung jawab terhadap tugas-tugas yang dipercayakan.

Paulus juga menggambarkan kesetiaan iman kepada Allah itu melalui upaya untuk saling mendoakan. Mendoakan orang lain, baik orang miskin, musuh, teman, saudara maupun penguasa atau pemerintah merupakan sebuah kebajikan yang diajarkan Paulus.

Tentu masih banyak hal kecil dalam diri, keluarga dan lingkungan hidup kita yang menuntut kesetiaan kita dalam menjaga dan menumbuhkembangkannya. Karena itu, semoga kepada kita Allah selalu memberikan kekuatan agar kita tetap setia dalam hal-hal kecil sebelum menerima tanggung jawab yang lebih besar.

- Korinus Budaya, SVD -