Paroki Roh Kudus

Paroki Roh Kudus

Renungan

Home / Renungan
Paroki Roh Kudus

Melakukan Hal Kecil dengan Cinta Besar

Renungan Hari Minggu Biasa XXIV / C

Kel 32:7-11,13-14 ; 1Tim 1:12-17 ; Luk 15:1-10

 

“Akan menjadi sebuah skandal besar dalam abad kita ini, jika 600 juta orang makan enak dan hidup mewah sementara 3 miliar lainnya hidup dalam kemelaratan dan jutaan anak-anak mati karena lapar. Saya terlalu tua untuk mengubah semua ini. Satu-satunya yang bisa saya buat adalah hadir di tengah mereka dan merasakan apa yang mereka rasakan.” Inilah kata-kata Uskup Agung Montreal Kanada, Kardinal Paul Emile Leger. Tahun 1968 dia meninggalkan istana uskup dan memilih tinggal bersama penduduk miskin di sebuah kampung di pedalaman (Afrika). Kasih Tuhan yang ia wartakan menggerakkannya untuk mengasihi orang-orang kecil, sederhana dan miskin secara konkret. Kasih Tuhan yang sama kita temukan bernyala dalam hidup dan karya Santa Teresa dari Kalkuta, sosok bersahaja yang mengasihi banyak orang tanpa mengharapkan balasan. Ia menghibur warga yang menderita, menawarkan tempat penampungan kepada gelandangan dan membantu warga yang paling miskin. Hidupnya merupakan pembuktian dari kata-katanya sendiri, “Orang kelaparan akan roti, benar-benar kelaparan. Tetapi ada kelaparan yang lebih parah yaitu kelaparan akan kasih. ”

Bacaan-bacaan suci hari ini memberi kesaksian tentang sosok Allah yang Mahapengasih. Ia mengasihi Israel, gambaran orang beriman yang berziarah dalam kerapuhan. Santo Paulus bersaksi tentang pengalaman kasih itu dalam hidupnya sendiri. Allah begitu besar mengasihi Paulus yang sesungguhnya paling besar kejahatannya. Kisah Injil menegaskan bahwa dalam diri Yesus Kristus, Allah mengasihi orang yang berdosa, mencari sekuat tenaga hingga menemukan yang hilang, dengan penuh risiko dan kesabaran lalu menerimanya kembali sebagai manusia yang pantas dikasihi.

Menurut Rasul Santo Paulus, iman akan Yesus Kristus menggerakkan manusia untuk mampu melihat kasih dan kerahiman Allah dalam karya keselamatan-Nya. Hanya melalui bahasa iman, kita mampu memandang Allah tidak hanya sebagai hakim yang bisa menjatuhkan keputusan secara adil melainkan juga sebagai Tuhan yang penuh kasih dan kerahiman. Hanya orang beriman yang akan menjadi sadar akan kasih karunia Allah yang bisa menggerakkannya untuk bertobat, membarui hidup dan berbuat kasih kepada orang lain.

Paus Fransiskus dalam khotbah kanonisasi Santa Teresa dari Kalkuta di Vatikan melukiskan Santa Teresa sebagai sosok yang penuh belas kasih dan menjadi simbol kerahiman Allah. Paus Fransiskus mengibaratkan ibu Teresa sebagai cahaya Allah yang bersinar dalam kehidupan yang gelap dan penuh penderitaan. Kita diinspirasi untuk berbuat kasih kepada semua orang. Kita tidak selalu dapat melakukan hal yang besar. Tetapi kita dapat melakukan banyak hal yang kecil dengan cinta yang besar. Amin.***

- Dominikus Beda Udjan, SVD -