Paroki Roh Kudus

Paroki Roh Kudus

Renungan

Home / Renungan
Paroki Roh Kudus

Bersikap Rendah Hati

Hari Minggu Kitab Suci Nasional / Hari Minggu Biasa XXII / C

Sir 3:17-18,20,28-29 ; Ibr 12:18-19,22-24a ; Luk 14:1,7-14

 

Hari ini adalah hari minggu biasa ke duapuluh dua sekaligus juga kita membuka Bulan Kitab Suci Nasional. Bacaan pertama mengisahkan tentang nasehat agar dalam kehidupan sehari-hari, kita senantiasa bersikap rendah hati dan tidak menyombongkan diri; mendengarkan didikan serta memupuk sikap arif dan bijaksana dalam hidup sehari-hari. Dalam bacaan kedua, penulis Surat kepada orang-orang Ibrani menceritakan tentang mereka yang ikut serta dalam perjamuan abadi dan kumpulan orang-orang yang diselamatkan. Sementara itu dalam bacaan Injil, Yesus menasehati para muridnya untuk merendahakan diri dan juga hati serta untuk tidak memegahkan diri.

Perjamuan atau makan bersama adalah hal yang biasa kita saksikan atau lakukan dalam hidup sehari-hari. Dalam berbabgai kesempatan hidup, kita kerapkali mengadakan atau menghadiri suatu jamuan makan bersama atau perjamuan. Banyak orang menandai persahabatan, keberhasilan dan ucapan syukur dengan makan bersama. Hal ini tentu amat wajar dan sangat biasa dalam kehidupan kita sehari-hari. Bacaan Injil yang kita dengarkan hari ini, tidak boleh ditafsirkan secara harafiah. Yang terpenting adalah kesimpulannya. Yakni, janganlah orang memegahkan diri, meninggikan diri, menganggap dirinya lebih hebat daripada orang lain, dan mencari kehormatan bagi dirinya sendiri. Sikap semacam ini, bukan hanya berbahaya bagi diri orang tersebut tetapi juga menimbulkan ketegangan dalam masyarakat atau komunitas.

Saling mengundang dalam konteks semacam ini merupakan hal yang biasa. Sudah hal yang biasa bahwa kita akan mengudang kerabat, teman, sahabat dan keluarga yang kita kenal. Sebagai manusia biasa, kadang muncul keinginan dalam diri kita untuk duduk dekat dengan tuan pesta atau sang tuan pemilik pesta. Hal ini lumrah terjadi. Pada hari ini, Tuhan secara khusus mengundang kita semua untuk ikut dalam perjamuan pesta yang diadakanNya. Dia tahu bahwa kita adalah manusia yang penuh dengan kelemahan dan dosa. Kita seringkali melukai dan menyakiti Dia. Pesan Injil ini jelas sekali. Dalam Kerajaan Allah tersedia banyak tempat untuk kita. Dia sendirilah tuan pesta dan Dia sendiri yang tahu alasan apa Dia mengundang kita. Siapa yang menghadiri perjamuan itu? Bagaimana sikap kita menghadiri perjamuan itu? Bagaimana kita menempatkan diri?

Zaman kita ditandai dengan dua hal yang menonjol yakni semangat bersaing yang tinggi dan kemajuan teknologi yang sangat pesat. Kompetisi atau persaingan untuk menjadi yang terbaik sangat keras. Bahkan kadang seseorang menghalalkan segala cara agar dia dapat mengalahkan orang lain. Tentu hal ini adalah tindakan yang sangat tidak terpuji. Orang berlomba-lomba untuk sampai puncak dalam hal karier, kekayaan dan lain-lain. Ada anggapan bahwa orang yang hebat adalah mereka yang berpangkat tinggi, punya jabatan dan punya banyak harta. Sebaliknya, mereka yang jatuh miskin, gagal dan dalam usaha dan mengalami penderitaan dianggap sial dan tidak terpandang.

Menjadi kaya dan memiliki banyak harta, tidak salah, tetapi juga harus dibarengi dengan kesadaran dan kerendahan hati bahwa semuanya berasal dari Allah. Bacaan pertama dengan tegas mengatakan “makin besar engkau, makin kaurendahkan dirimu, supaya engkau mendapat karunia di hadapan Tuhan” ( Sir. 3: 18). ketika kita berani merendahkan diri di hadapan Tuhan dan sesama, kita akan ikut serta dalam perjamuan abadi dan kita diundang masuk ke dalam Yerusalem surgawi dan kita menjadi anak-anak sulung yang sudah terdaftar di surga.

Hari ini, kita memasuki Bulan Kitab Suci Nasional. Tema yang akan kita renungkan bersama adalah “Menghidupi semangat kenabian sebagai murid Kristus yang memasyarakat”. Hanya dengan kerendahan hati lah kita mampu menjadi murid Kristus. Pada bulan ini, secara khusus Gereja mengajak kita untuk semakin berelasi dengan Kristus lewat Sabda yang kita baca dan kita renungkan. Kita akan semakin mengenal Kristus jika kita rajin bergaul dengan Kitab Suci. St. Hironimus ( Imam dan Pujangga Gereja) pernah berkata “Ignorantio Scripturam, Ignorantio Christum Est” artinya, tidak mengenal Kitab Suci berarti tidak mengenal Kristus. Semoga selama Bulan Kitab Suci Nasional ini, kita semakin mengenal Kristus lewat Kitab Suci yang akan kita renungkan secara khusus selama bulan ini.

DOA: Allah yang berbelas kasih, Sabda-Mu adalah Terang dan Pelita hidup kami. Bimbinglah kami dengan Roh Kudus-Mu untuk membaca dan merenungkan Sabda-Mu. Dengan daya Roh Kudus-Mu itu, bukalah telinga dan hati kami untuk mendengarkan Sabda-Mu. Terangilah budi dan hati kami untuk memahami Sabda-Mu. Jernihkanlah hasrat jiwa kami untuk meresapkan Sabda-Mu. Doronglah kehendak dan tekad kami untuk mengamalkan Sabda-Mu dalam hidup dan perutusan kami sehari-hari. Demi Kristus Tuhan kami. Amin

- Diakon Sandro Simanjorang, SVD -