Paroki Roh Kudus

Renungan

Home / Renungan
Paroki Roh Kudus

Siapakah Sesamaku?

Renungan Hari Minggu Biasa XV / C

Ul 30:10-14 ; Kol 1:15-20 ; Luk 10:25-37

 

Ketika Yesus masih berada di dekat Yerusalem, orang-orang Yahudi mendatangi Dia. Sebagian mau mendengarkan ajaranNya, tapi ada juga yang hanya mau menguji Yesus. Salah satu dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya kepada Yesus, “Guru, apa yang perlu saya lakukan agar mewarisi kehidupan abadi?” (Lukas 10:25).

Yesus tahu bahwa pria itu bertanya bukan untuk tahu jawabannya. Pria itu sebenarnya sudah punya pendapat sendiri. Dia mungkin berharap jawaban Yesus akan membuat orang-orang Yahudi tersinggung. Jadi, Yesus tidak langsung menjawabnya. Dia dengan bijak membuat pria itu menyatakan pendapatnya sendiri. Dan ini sudah menjadi kebiasaan umum di kalangan orang Yahudi dalam bersoal jawab bahwa untuk mendalami sebuah pertanyaan, seseorang tidak akan langsung menjawab pertanyaan tetapi akan menjawab dengan balik bertanya kepada penanya.

Yesus bertanya, “Apa yang ditulis dalam Taurat? Apa yang kamu mengerti?” Pria ini menguasai Taurat, jadi dia mengutip Ulangan 6:5* dan Imamat 19:18** Dia berkata, “Kasihilah Yahwe Allahmu dengan sepenuh hati, sepenuh jiwa, seluruh kekuatan, dan seluruh pikiranmu, dan, kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri” (Lukas 10:26, 27).

Yesus memberi tahu pria itu, “Jawabanmu benar. Teruslah lakukan itu dan kamu akan mendapat kehidupan.” Tapi, pria itu tidak puas. Dia ingin Yesus setuju dengan cara dia memandang dan memperlakukan orang lain. Dengan begitu, dia bisa “membuktikan dirinya benar”. Jadi pria itu bertanya lagi, “Sesama saya itu sebenarnya siapa?” (Lukas 10:28, 29). Pertanyaan itu kelihatan sederhana tapi sebenarnya tidak. Mengapa?

Menurut orang Yahudi, sesama mereka hanyalah orang-orang yang menjalankan tradisi Yahudi. Mereka mungkin berpikir bahwa Imamat 19:18 mendukung pandangan itu. Malah, mungkin ada orang Yahudi yang merasa bahwa mereka tidak boleh bergaul dengan orang dari bangsa lain (Kisah 10:28). Jadi, pria ini dan mungkin sebagian pengikut Yesus merasa bahwa yang penting, mereka memperlakukan sesama orang Yahudi dengan baik. Tapi kalau itu bukan orang Yahudi, mereka boleh bersikap seenaknya.

Bagaimana Yesus mengoreksi pandangan ini tanpa menyinggung perasaan pria itu dan orang-orang Yahudi lain? Dia bercerita, “Ada orang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho, dan dia jatuh ke tangan perampok. Para perampok itu merampas pakaian dan hartanya, memukulinya sampai hampir mati, lalu meninggalkan dia.” Yesus melanjutkan, “Kebetulan, seorang imam juga turun lewat jalan itu. Tapi sewaktu melihat dia, imam itu berjalan terus di seberang jalan. Begitu juga dengan seorang Lewi. Sewaktu sampai ke tempat itu dan melihat dia, orang Lewi itu berjalan terus di seberang jalan. Tapi, ada orang Samaria yang lewat di jalan itu. Ketika melihat dia, orang itu tergerak oleh rasa kasihan” (Lukas 10:30-33).

Pria yang bertanya tadi pasti tahu bahwa banyak imam dan orang Lewi yang melayani di bait tinggal di Yerikho. Untuk pulang dari bait, mereka harus melewati jalan yang panjangnya sekitar 23 kilometer. Rute itu berbahaya karena banyak perampok bersembunyi di sana. Jika seorang imam dan orang Lewi melihat sesama orang Yahudi butuh bantuan, apakah mereka mau menolong dia? Dalam cerita itu, mereka tidak mau membantu. Yang membantu orang Yahudi itu malah orang Samaria, yang bangsanya dianggap hina oleh orang Yahudi (Yohanes 8:48).

Bantuan apa yang diberikan orang Samaria itu? Yesus mengatakan, “Orang itu mendekati dia, lalu menuangkan minyak dan anggur pada luka-lukanya dan membalutnya. Kemudian orang itu menaikkan dia ke atas keledainya, membawa dia ke penginapan, dan merawat dia. Besoknya, orang itu mengeluarkan dua dinar, lalu memberikannya kepada pengurus penginapan dan berkata, Rawatlah dia, dan kalau yang kamu belanjakan lebih dari ini, saya akan membayarnya saat saya kembali.” (Lukas 10:34, 35).

Setelah bercerita, Yesus, sang Guru Agung, bertanya kepada pria tadi, “Menurut kamu, siapa dari tiga orang ini yang bertindak sebagai sesama bagi orang yang jatuh ke tangan perampok itu?” Pria itu mungkin tidak mau menjawab “orang Samaria”, karena orang Yahudi tidak bergaul bahkan cenderung bermusuhan dengan orang Samaria yang dianggap sebagai bangsa yang tidak mengenal Allah yang benar (kafir) jadi dia berkata, “Orang yang menunjukkan belas kasihan kepadanya.” Yesus lalu dengan jelas menyimpulkan pelajarannya, “Pergilah dan lakukan itu juga.” (Lukas 10:36, 37).

Cara mengajar Yesus benar-benar bagus! Kalau Yesus langsung memberi tahu pria itu bahwa orang dari bangsa lain adalah sesamanya juga, apakah pria itu dan orang-orang Yahudi lain yang ada di sana akan menerima ajaran Yesus? Kemungkinan besar tidak. Tapi, Yesus memberikan cerita sederhana yang pelajarannya mudah dimengerti. Dengan begitu, mereka bisa menjawab sendiri pertanyaan, ”Sesama saya itu sebenarnya siapa?” Jelaslah, sesama yang sebenarnya adalah orang yang menunjukkan kasih dan kebaikan hati, seperti yang diperintahkan dalam Kitab Suci.

Perikop ini sesungguhnya jelas mengajarkan kepada kita bahwa sesama bagi kita adalah siapapun -tidak terbatas oleh ras ataupun golongan- yang membutuhkan pertolongan kita. Maka belas kasihan tidak hanya berarti merasa kasihan, tetapi kasih itu harus diwujudkan dalam bentuk yang nyata. Kita sebagai murid- murid Kristus diajak untuk membagikan belas kasih kita kepada sesama. Sesama di sini bukan hanya teman kita, tetapi juga mereka yang bukan teman kita, bahkan musuh/ orang yang membenci kita. Perumpamaan ini menjelaskan perintah Kristus, “Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu…” (Luk 6:27; lih. Mat 5:43). Sebab kasih yang tulus sifatnya memberi, tanpa mengharapkan balasan; menolong karena mengetahui bahwa orang tersebut membutuhkan pertolongan.

Secara khusus, Yesus mengajar dengan perumpamaan dengan maksud mengkoreksi kebiasaan kesalehan yang palsu yang dilakukan oleh orang- orang pada jaman itu. Menurut hukum Taurat, persentuhan dengan jenazah menjadikan seseorang najis secara hukum, sehingga perlu menjalani ritual pemurnian (lih. Bil 19:11-22, Im 21:1-4, 11-12). Hukum- hukum ini bukan dimaksudkan untuk mencegah orang- orang menolong orang yang terluka; tetapi hukum itu ditujukan untuk alasan kesehatan dan penghormatan kepada orang mati. Penyimpangan para imam dan orang Lewi pada perumpamaan ini adalah, mereka yang tidak tahu apakah orang yang dirampok itu sudah mati atau belum, sengaja memilih untuk menerapkan interpretasi yang keliru terhadap hukum ritual -yang merupakan hukum yang sekunder- dan malah mengabaikan hukum yang lebih utama, yaitu mengasihi sesama dan memberikan bantuan yang diperlukannya.

Dengan demikian Yesus mengajarkan kita bahwa hukum kasih merupakan hukum yang terutama, dan ini mengatasi hukum- hukum yang lainnya. Hukum kasih mengatasi batas ras/golongan, seperti yang ditunjukkan dalam perumpamaan ini. Sebab yang terluka karena dirampok itu adalah seorang Yahudi, sehingga sesungguhnya seorang imam Yahudi dan seorang Lewi yang lewat di sana mempunyai kewajiban yang lebih besar untuk menolongnya, karena mereka sebangsa, namun juga karena kedudukan mereka sebagai pemuka umat. Sebaliknya, akan lebih mudah dimengerti jika orang Samaria itu memilih untuk tidak menolongnya, sebab saat itu bangsa Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria (lih Yoh 4:9). Namun demikian, yang terjadi dalam perumpamaan itu adalah sebaliknya: sesama orang Yahudi yang seharusnya menolong malah tidak menolongnya, sedangkan orang Samaria yang tidak dianggap teman itulah yang menolongnya. Orang Samaria yang selama ini dianggap sebagai bangsa yang tidak mengenal Allah yang benar (kafir) justru tahu dan mampu mempraktikkan cinta dan belas kasih kepada orang lain yang menderita, bahkan menunjukkan cinta dan belas kasihnya kepada orang yang selama ini memusuhi mereka, menganggap mereka sebagai bangsa yang jauh dari Allah. Kisah ini seharusnya membuka pemikiran kita tentang apakah kita sudah menjadi ‘orang Samaria yang baik hati’ bagi orang yang membutuhkan pertolongan?

Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita, bahwa hanya dengan mengasihi Tuhan-lah kita dapat hidup bahagia. Kasih kepada Tuhan itu diikuti dan diwujudkan oleh kasih kepada sesama, sebab kita percaya Tuhan hadir di dalam sesama kita yang membutuhkan pertolongan (lih. Mat 25:40). Kisah orang Samaria yang baik hati mendorong kita untuk mengasihi tanpa memandang bulu, tanpa membeda-bedakan ras dan golongan, dan tanpa mengharapkan balasan. Kristus sendiri telah memberikan teladan kepada kita, sebab Ia-lah yang digambarkan sebagai orang Samaria yang baik hati itu. Kristus telah menolong kita, menyembuhkan luka-luka kita akibat kejatuhan kita ke dalam dosa. Setelah mengalami pertolongan Tuhan ini, kitapun dipanggil oleh Kristus untuk melakukan hal yang sama, yaitu menolong sesama kita yang juga membutuhkan pertolongan, baik itu adalah teman kita, ataupun orang yang membenci kita. Setelah kita memenuhi tugas kewajiban kita di dalam keluarga dan pekerjaan kita, kita perlu juga berkarya bagi orang lain dengan menjadi “Orang Samaria yang baik hati” bagi mereka yang membutuhkan. Dengan melakukan hal ini, kita membagikan kasih Tuhan, dan hati kita akan memperoleh suka cita.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------
*Ul 6:5 - “Kasihilah TUHAN, Allahmu , dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap kekuatanmu”.
**Im 19:18 - “Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah TUHAN”.

- Heribertus Winarto, Pr -