Paroki Roh Kudus

Paroki Roh Kudus

Renungan

Home / Renungan
Paroki Roh Kudus

Credo ut Intelligam! (Aku percaya supaya aku mengerti)

Renungan Hari Raya Tritunggal Mahakudus / C

Ams 8:22-31 ; Rm 5:1-5 ; Yoh 16:12-15

Pada hari ini kita merayakan Hari Raya Tritunggal Mahakudus. Tritunggal dari bahasa Latin Trinitas. Allah yang kita imani itu Esa atau satu tetapi dalam tiga pribadi yang berbeda yakni Bapa, Putra dan Roh Kudus. Pribadi-pribadi Ilahi yang kita sapa sebagai Bapa, Putra dan Roh Kudus selalu kita sebut ketika membuat tanda salib sebagai tanda kemenangan kita. Ziarah hidup kita selalu menuju kepada Bapa, mengikuti jejak Yesus PutraNya dan jiwai oleh RohNya yang kudus.

Misteri Iman Tritunggal Mahakudus
Memang tidak mungkin kita mengerti secara tuntas misteri Allah Tritunggal Mahakudus, karena kalau kita bisa mengerti secara tuntas misteri Allah Tritunggal Mahakudus, kita menguasai misteri itu. Misteri itu tidak lagi menjadi misteri. Kita adalah manusia yang terbatas, ciptaan Allah, maka tidak mungkin mengerti Sang Pencipta secara tuntas. Allah bukan lagi Allah Sang Pencipta kalau bisa kita mengerti secara tuntas. Syukurlah bahwa kita tidak bisa mengertinya secara tuntas. Misteri Allah Tritunggal Mahakudus adalah pewahyuan diri Allah yang diberikan kepada kita melalui Yesus Kristus sebagai utusan Allah dan sekaligus pribadi kedua dari Allah Tritunggal Mahakudus. Iman akan Allah Tritunggal Mahakudus adalah anugerah Ilahi kepada kita manusia yang lemah dan terbatas ini.

Dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK) art. 253 dan 254 dikatakan:
Tritunggal adalah satu. Kita tidak mengakui tiga Allah, tetapi satu Allah dalam tiga Pribadi: “Tritunggal yang sehakikat” (Konsili Konstantinopel 1155: DS 421). Pribadi-pribadi ilahi tidak membagi-bagi ke-Allah-an yang satu itu di antara mereka, tetapi masing-masing dari mereka adalah Allah sepenuhnya dan seluruhnya: “Bapa adalah yang sama seperti Putera, Putera yang sama seperti Bapa. Bapa dan Putera adalah yang sama seperti Roh Kudus, yaitu satu Allah menurut kodrat” (Sinode Toledo XI 675: DS 530). “Tiap-tiap dari ketiga Pribadi itu merupakan kenyataan itu, yakni substansi, hakikat, atau kodrat ilahi” (K. Lateran IV 1215: DS 804).

Ketiga Pribadi ilahi berbeda secara real satu dengan yang lain. Allah yang satu bukanlah “seakan-akan sendirian” (Fides Damasi: DS 71). “Bapa”, “Putera”, “Roh Kudus”, bukanlah hanya nama-nama yang menyatakan cara-cara berada berbeda dari hakikat ilahi, karena mereka secara real berbeda satu dengan yang lain: “Bapa tidak sama dengan Putera, Putera tidak sama dengan Bapa, Roh Kudus tidak sama dengan Bapa dan Putera” (Sin. Toledo XI 675: DS 530). Masing-masing berbeda satu dengan yang lain oleh hubungan asalnya: Adalah “Bapa yang melahirkan, dan Putera yang dilahirkan dan Roh Kudus yang dihembuskan” (K. Lateran IV 1215: DS 804). Kesatuan ilahi bersifat tritunggal.

Ada beberapa sarana bantu yang tidak sempurna untuk sedikit mengerti Allah Tritunggal Mahakudus, untuk menalar bagaimana yang tiga adalah satu dan yang satu adalah tiga. Misalnya, kita bisa mengambil api sebagai contoh. Api itu adalah satu, tetapi dia mempunyai tenaga yang luar biasa kuat sehingga api bisa menggerakkan lokomotif. Api juga bisa memberikan cahaya untuk menerangi kegelapan. Demikian pula api bisa memberikan panasnya untuk menghalau hawa dingin. Tenaga, cahaya, dan panas adalah tiga hal yang berbeda, tetapi api itu tetap satu. Sarana bantu api memang bisa membantu, tetapi sarana bantu ini tetap tidak sempurna. Tenaga, cahaya, dan panas tidaklah sungguh-sungguh mandiri keberadaannya. Ajaran Gereja tentang Allah Tritunggal Mahakudus itu hanya satu, tetapi mempunyai tiga pribadi. Masing-masing pribadi itu mempunyai keberadaannya sendiri dan berbeda satu sama lain. Tetapi, sarana bantu ini bisa sedikit membantu bagaimana yang satu itu adalah tiga dan yang tiga itu adalah satu. Inilah misteri iman kita.

Allah Tritunggal Mahakudus adalah Relasi Kasih (Allah adalah Kasih)
Bacaan pertama hari ini menjabarkan adanya Tuhan dan Kebijaksanaan-Nya: “Tuhan telah memiliki aku sebagai permulaan pekerjaaan-Nya” (Ams 8:22). Kebijaksanaan telah ada bersama dengan Allah sebagai milik-Nya. Di sini kata “menciptakan” maksudnya adalah ungkapan penggambaran dari sesuatu yang ada sebagai milik Allah: yang sudah ada dalam diri Allah sebelum segala sesuatu diciptakan. Kebijaksanaan dan Sang Sabda Allah itu dengan Allah sendiri, yang dalam Perjanjian Baru dinyatakan oleh Kristus dan di dalam Kristus. Sebab Kristus yang ada sebelum Abraham ada (Yoh 8:58) adalah Sang Firman yang telah ada sejak awal mula bersama-sama dengan Allah dan Ia adalah Allah. Oleh Sang Firman itu segala sesuatu diciptakan (lih. Yoh 1:1-2). Oleh karena itu dalam setiap penciptaan, didahului dengan, “Berfirmanlah Allah” (lih. Kej 1).

Selanjutnya, Rasul Paulus mengajarkan bahwa Sang Firman yang telah menciptakan kita, juga adalah Ia yang membenarkan dan menyelamatkan kita. Kita dibenarkan karena Tuhan kita Yesus Kristus. Oleh Dia kita beroleh jalan masuk kepada Allah Bapa, karena iman akan kasih karunia Allah (lih. Rm 5:1-2). Dalam kasih karunia Allah ini, kita berharap akan menerima kemuliaan Allah. Dan pengharapan ini tidak mengecewakan, sebab kita telah menerima curahan kasih Allah yaitu oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita. Dari Bacaan Kedua ini terlihat adanya kesatuan tak terpisahkan antara Yesus Kristus sebagai jalan masuk kepada Allah Bapa, dan Roh Kudus yang dicurahkan untuk meneguhkan pengharapan kita sebagai orang beriman.

Paulus berpesan kepada umat di Roma, bahwa “kesengsaraan menimbulkan ketekunan, ketekunan menimbulkan tahan uji, tahan uji menimbulkan pengharapan akah kasih Allah yang dicurahkan ke dalam hati kita oleh Roh Kudus”. Yang dimaksudkan dengan sengsara tentu saja secara phisik, sosial dan psikologis, tetapi tidak secara spiritual. Kesengsaraan tersebut dihayati dengan gembira dan tekun, sehingga membuahkan ketekunan dalam saling mengasihi. Tekun adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan kesungguhan yang penuh daya tahan dan terus menerus serta tetap semangat dalam melakukan sesuatu. Tekun dalam saling mengasihi berarti dalam kondisi dan situasi apapun dan dimanapun senantiasa saling mengasihi dengan penuh semangat dan gairah. Ia menghayati kasih Allah dalam kondisi dan situasi apapun dengan hidup dan bertindak saling mengasihi. Tahan uji berarti ada harapan lulus dalam ujian atau berhasil dalam usaha dan upaya. Meskipun harus menderita dan sengsara orang tetap ceria dan gembira, itulah pengharapan. Apa yang diharapkan belum kelihatan atau terwujud, namun menggairahkan dan memberdayakan, karena yang menjadi pengharapan adalah kasih karunia Allah. Iman terhadap Tritunggal Mahakudus hendaknya juga ditandai dengan pengharapan, artinya dengan gembira, ceria, bergairah orang menghayati iman tersebut meskipun harus menghadapi aneka tantangan, kesulitan dan masalah.

Injil Yohanes mengungkapkan bahwa Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya" (ay.12). Ternyata baru sesudah terbukti, bahwa Yesus mengalahkan maut, mereka itu akhirnya menerima kepastian tentang kata-kata Yesus, yang berkali-kali disampaikan kepada mereka selama hidupNya. Tiga kali dalam Injil hari ini Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, bahwa Roh-Nya, yaitu "Roh kebenaran", "akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang" (ay.13). Selanjutnya Roh itu juga "akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari pada-Ku" (ay.14). Akhirnya ditegaskan lagi: "Segala sesuatu yang Bapa punya adalah Aku punya; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari pada-Ku" (ay.15). Sampai tiga kali ditegaskan oleh Yesus, bahwa peranan Roh ialah memberitakan lagi, atau meneruskan sekaligus menerangkan lebih mendalam apa yang sudah diwartakan dan dilakukan oleh Yesus, yang telah diutus oleh Allah Bapa-Nya.

“Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran”. Memimpin ke dalam seluruh kebenaran yang berkaitan dengan tugas mereka sebagai duta. Kebenaran apa saja yang harus mereka ajarkan kepada orang lain, Roh akan mengajarkan mereka. Ia akan memberikan pengertian kepada mereka akan ajaran-Nya itu, dan memampukan mereka untuk menjelaskan serta mempertahankannya. Memimpin ke dalam kebenaran semata, bukan hal lainnya. Ke dalam apa saja Ia akan memimpin kamu, semuanya itu adalah kebenaran (1Yoh. 2:27). Roh bekerja untuk mempermuliakan Kristus (ay. 14-15). Pengutusan Roh itu pun mempermuliakan Kristus. Allah Bapa mempermuliakan Dia di sorga, sedangkan Roh mempermuliakan Dia di bumi. Merupakan kehormatan bagi Sang Penebus jika Roh itu diutus dalam nama-Nya dan juga untuk melaksanakan pekerjaan bagi-Nya, yaitu melanjutkan dan menyempurnakan karya-Nya. Semua pemberian dan karunia Roh, semua khotbah dan tulisan para rasul di bawah pengaruh Roh, bahasa lidah, dan mujizat, adalah untuk mempermuliakan Kristus.

Demikianlah, makna Tritunggal bagi kita seperti diungkapkan dalam Injil Yohanes ialah, bahwa Allah adalah kasih. Sebagai Bapa Allah mengungkapkan kasih-Nya itu melalui dan dalam diri Putera-Nya Yesus Kristus. Dan segenap perutusan kasih Allah Bapa dan Putera-Nya itu diteruskan dan dilaksanakan pemberitaannya oleh Roh Kudus . Apa yang sudah dilakukan oleh Yesus diteruskan oleh Roh Kudus. Roh inilah yang akan menerangkan dan memperdalam makna penyelamatan oleh Kristus itu kepada segala umat manusia, dengan aneka budaya dan bahasa hidup mereka masing-masing. Roh Kudus sebagai bagian dari Allah Tritunggal tidak memberikan hal-hal baru, melainkan memberi keterangan tentang pelaksanaan atau pemenuhan segala-nya yang telah diberitakan oleh Yesus Kristus, atas nama Allah Bapa, yang mengutus-Nya secara utuh dan benar.

“Inti pokok iman akan Allah Tritunggal ialah keyakinan bahwa Allah (Bapa) menyelamatkan manusia dalam Kristus (Putra) oleh Roh Kudus. Ajaran mengenal Allah Tritunggal pertama-tama berbicara bukan mengenai hidup Allah dalam diriNya sendiri, melainkan mengenai misteri Allah yang memberikan diri kepada manusia” (KWI: IMAN KATOLIK, Buku Informasi dan Referensi, Jakarta 1996, hal 311-312). Pemahaman dan iman pada Tritunggal Mahakudus erat kaitannya dengan kasih Kristus, yang rasanya sulit difahami dan diimani bagi sebagian orang. Kasih Kristus antara lain menjadi nyata dalam persembahan DiriNya di kayu salib demi keselamatan seluruh dunia. AjaranNya perihal kasih dengan mengasihi musuh dan mendoakan mereka yang membenci rasanya juga sulit difahami dan diimani oleh sebagian orang. Kami percaya jika kita juga mengimani dan menghayati persembahan Diri Yesus di kayu salib serta ajaranNya perihal kasih, maka kita juga dapat mengimani dan menghayati Tritunggal Mahakudus, yang menjadi nyata dalam cara hidup dan cara bertindak saling mengasihi satu sama lain.

“O Allahku, Tritunggal, yang aku sembah, bantulah aku, melupakan diri sehabis-habisnya, supaya tertanam di dalam Engkau, tidak tergoyangkan dan tenteram, seakan-akan jiwaku sudah bermukim dalam keabadian. Semoga tak sesuatu pun dapat mengganggu kedamaianku, membujuk aku keluar dari Dikau, O Engkau yang tidak dapat berubah; semoga setiap saat Engkau membawa aku masuk lebih jauh ke dalam dasar rahasia-Mu. Puaskanlah jiwaku, bentuklah surga-Mu darinya, tempat tinggal-Mu yang terkasih dan tempat ketenangan-Mu. Aku tidak pernah akan membiarkan Engkau seorang diri di sana, tetapi aku akan hadir sepenuhnya, sepenuhnya sadar dalam iman, sepenuhnya penyembahan, sepenuhnya penyerahan kepada karya-Mu yang menciptakan … ” (Elisabeth dari Tritunggal, Doa).***

- Heribertus Winarto, Pr -