Paroki Roh Kudus

Paroki Roh Kudus

Renungan

Home / Renungan
Paroki Roh Kudus

Hari Minggu Komunikasi Sosial

Renungan Hari Minggu Paskah VII / C

Kis 7:55-60 ; Why 22:12-14,16-17,20 ; Yoh 17:20-26

 

Hari ini kita memasuki Minggu Paskah VII, yang oleh Gereja juga dijadikan sebagai Hari Minggu Komunikasi Sosial Sedunia. Bacaan-bacaan hari ini, khususnya Injil menegaskan kehendak Tuhan untuk kita semua, yaitu supaya kita bersatu, hidup rukun dan damai. Kita diajak untuk menghayati dan mengembangkan komunikasi yang mempersatukan dan menciptakan kerukunan serta kedamaian.

Dewasa ini, teknologi dan alat-alat komunikasi modern berkembang dengan sangat pesat. Alat-alat komunikasi, yang meliputi internet, telpon rumah, telpon seluler, blakberry, iphone, android, dll dengan segala fasilitasnya seperti telpon, sms, viber, line, talk, skype, facebook, twieter, dll, sangat membantu dan memudahkan proses komunikasi kita. Dengan alat-alat komunikasi yang kita miliki, jarak yang jauh tidak pernah lagi menjadi masalah untuk saling berkomunikasi, bersaudara, serta memelihara relasi dan kesatuan.

Namun, tidak jarang juga alat-alat komunikasi tersebut justru memicu terjadinya konflik dan perpecahan yang merusak kesatuan. Penggunaan alat-alat komunikasi yang berlebihan dapat menjadikan orang terlalu asyik dengan alat komunikasinya, tanpa peduli dengan orang lain yang ada di sekitarnya. Juga bisa menyembunyikan relasi tidak sehat yang pada saatnya dapat merusak keutuhan keluarga atau komitmen hidup panggilan sebagai imam, bruder, suster.

Oleh karena itu, baiklah pada Minggu komunikasi sosial sedunia ini, kita membangun komitmen untuk menggunakan alat-alat komunikasi secara bijaksana. Menggunakan alat-alat komunikasi secara bijaksana berarti berkomunikasi atas dasar kasih, sebagaimana diserukan oleh Paus Benedictus XVI (emeritus) dalam pesan Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-47, tanggal 24 Januari 2013. “Walaupun saya berbicara dengan bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi apabila aku tidak mempunyai kasih, aku adalah gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing” (1 Kor 13:1). Dengan kata lain, meskipun kita mempunyai dan mampu menggunakan alat-alat komunikasi secanggih apa pun, kalau kita tidak menggunakannya dalam semangat kasih, tidak akan banyak gunanya.

Komunikasi yang dihayati dalam kasih, itulah komunikasi yang mempersatukan. Dan inilah komunikasi yang sejati sesuai dengan makna kata komunikasi itu sendiri. Kata komunikasi berasal dari bahasa latin communicatio yang salah satu maknanya adalah pergaulan, persatuan, kesatuan, hidup persaudaraan, ikut ambil bagian, dan kerjasama.

Paus Benedictus (emeritus) pada akhir pesannya juga menegaskan bahwa, di dalam dunia digital terdapat jejaring-jejaring sosial yang memberikan peluang-peluang sezaman untuk berdoa, meditasi, dan berbagi firman Allah. Akan tetapi jejaring sosial itu dapat juga membuka pintu terhadap dimensi lain dari iman. Banyak orang benar-benar menemukan, tepatnya berkat kontak awalnya di internet, pentingnya pertemuan langsung, pengalaman komunitas-komunitas dan bahkan peziarahan, unsur-unsur yang senantiasa penting dalam perjalanan iman. Dalam upaya untuk membuat Injil hadir dalam dunia digital, kita dapat mengundang orang untuk datang bersama-sama untuk berdoa dan perayaan liturgi di tempat-tempat tertentu seperti gereja dan kapel. Seharusnya tidak kekurangan kebersamaan atau kesatuan dalam pengungkapan iman kita dan dalam memberikan kesaksian tentang Injil di dalam realitas apa saja di mana kita hidup entah itu fisik atau digital. Kita kita berada bersama orang lain, selalu dan dengan cara apapun, kita dipanggil untuk memperkenalkan kasih Allah hingga ujung bumi.”

Marilah kita mengembangkan komunikasi dalam kasih sehingga kasih Allah semakin dikenal, dirasakan, dan dialami oleh semakin banyak orang.

Sumber : Romo Ag. Agus Widodo, Pr - renunganpagi.blogspot.com 

- Korinus Budaya, SVD -