Paroki Roh Kudus

Paroki Roh Kudus

Renungan

Home / Renungan
Paroki Roh Kudus

Rima Mei Gethukwati

Renungan Hari Minggu Paskah IV / C - Minggu Panggilan

Kis 13:14,43-52 ; Why 7:9,14b-17 ; Yoh 10:27-30

 

“Akulah gembala yang baik, gembala yang baik menyerahkan hidup-Nya untuk domba-domba-Nya. Ia mengenal domba-domba-Nya dan domba-domba-Nya mengenal Dia”, demikianlah sabda Yesus.

Tersebutlah sebuah kisah tentang Rima Mei Gethukwati. Dia adalah seorang ibu dari keluarga sederhana. Pekerjaannya sebagai pembuat dan penjual gethuk dilakukannya dengan tabah sampai akhirnya tiga anak yang dititipkan Tuhan kepadanya menjadi manusia yang berhasil. Sinta anaknya yang pertama seorang dosen, Nakula, anak keduanya sekarang sedang melanjutkan belajarnya di Jepang untuk Doktoralnya dan Sonny, anak bungsunya, seorang dokter spesialis anak. Semua anak ibu Rima Mei Gethukwati sangat menyayangi dan mencintainya. Sampai anak-anaknya yang sudah berkeluarga pun semua masih suka bercerita kepada putera-puteri mereka tentang ibunya. Mengapa anak-anaknya begitu mencintai ibu Rima Mei Gethuk ini ? Sinta, anak pertama, bercerita, “Ibu saya adalah seorang yang sungguh mengenal saya dan adik-adik saya secara mendalam. Dia memahami dan peka terhadap kesulitan, kegembiraan, dan penderitaan saya. Bahkan, kadang tanpa saya cerita pun dia merasakan apa yang bergejolak dalam hati saya. Sehingga kalau saya sedang diam, dia malah yang mulai bertanya, “Baru ada soal ya ?” Yang juga sangat mengesan, ibu saya dalam mendidik saya dan adik-adik saya jarang main kekerasan, tetapi lebih menggunakan penyadaran dan dialog. Dia sering mengungkapkan banyak alternatif, tetapi tetap saya yang harus mengambil keputusan, karena itu akan menjadi tanggung jawab saya, tetapi kalau saya sedang dalam persoalan besar, dia dengan rela meninggalkan urusannya demi kepentingan saya. Pokoknya aku bangga dengan ibu saya”.

Ibu Rima Mei Gethukwati begitu dekat dengan anak-anaknya secara pribadi dan dia dengan penuh keterbukaan membimbing anak-anaknya. Ibu Rima Mei dengan caranya sendiri berperan sebagai “Gembala yang baik” bagi orang-orang yang dipercayakan kepadanya yaitu anak-anak. Ibu Rima Mei Gethukwati dengan caranya sendiri mengambil bagian dalam penggembalaan Tuhan Yesus.

Dalam Injil hari ini dengan jelas Yesus menyatakan diri-Nya adalah gembala yang baik. “Akulah gembala yang baik”. Gembala yang baik punya sifat-sifat : 1) Mengenal domba-dombanya secara pribadi. “Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikuti Aku”. 2) Rela berkorban demi keselamatan domba-dombanya. “…dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku”. Kedua sifat gembala itu sudah dilakukan oleh Yesus, yaitu dengan menyerahkan hidup-Nya guna membebaskan manusia dan juga dengan kedekatan-Nya kepada para murid-Nya. Gembala yang baik tidak lari bila domba-dombanya dalam bahaya atau menyelamatkan dirinya sendiri, seperti yang biasa dilakukan oleh orang-orang upahan, tetapi dia akan mendahulukan domba-domba dan baru kalau mungkin dia menyelamatkan dirinya. Gembala yang baik mengenal secara pribadi domba-dombanya dan karena mengenal secara pribadi maka dia dapat membimbing, mengarahkan, dan membantu domba-domba sesuai dengan tujuan yang mau dicapai domba itu. Dan karena itu domba-dombanya juga mencintai dan mengenalnya.

Yesus adalah gembala yang baik itu. Dia bertindak sebagai gembala utama, maka kita sebagai domba-domba-Nya dapat datang kepada-Nya dan memperoleh bimbingan dan keselamatan. Dalam bimbingan-Nya kita akan sampai kepada kesatuan dengan Allah dan juga memperoleh keselamatan. Dalam kegembalaan-Nya kita sudah mendapat jaminan. Dia sendiri yang akan mendahului kita dalam setiap bahaya. Maka kita tidak usah menjadi takut.

Dalam menggembalakan domba-domba-Nya Yesus juga memanggil orang-orang yang terlibat dalam karya penggembalaan-Nya agar semua orang mendapat keselamatan. Mereka adalah orang-orang yang terpanggil untuk mengabdikan dirinya bagi Tuhan secara khusus dengan terlibat dalam karya penggembalaan-Nya. Mereka adalah orang-orang yang siap sedia dipakai oleh Yesus untuk menjamin agar domba-domba-Nya beroleh keselamatan. Pada hari Minggu Panggilan ini, mari kita banyak berdoa agar semakin banyak orang terpanggil secara khusus untuk terlibat dalam karya penggembalaan umat.

Sebagai pengikut Yesus, kita diajak untuk menjadi gembala-gembala kecil yang baik, yang juga punya ciri-ciri di atas. Sebagai apapun peran kita dalam keluarga atau masyarakat kita diminta menjadi dan bersikap seperti gembala yang baik terhadap orang-orang yang dipercayakan kepada kita. Diperlukan sikap keterbukaan untuk lebih memahami orang lain dan keberanian merelakan diri membantu orang lain.

Marilah kita belajar dari Yesus, sang Gembala baik untuk menjadi gembala-gembala kecil yang baik.

- Joseph Purwo Tjahjanto, SVD -