Paroki Roh Kudus

Paroki Roh Kudus

Renungan

Home / Renungan
Paroki Roh Kudus

Damai Sejahtera dan Kerahiman Tuhan Selalu Hadir Menyapa

Renungan Hari Minggu Paskah II / C

Kis 5:12-16 ; Why 1:9-11a,12-13,17-19 ; Yoh 20:19-31

 

Minggu Paskah kedua ini bertepatan dengan Gereja yang memberikan hormat dan bakti akan Kerahiman Tuhan Yesus. Hari ini Gereja merayakan Pesta Kerahiman Ilahi. “Aku menghendaki Pesta Kerahiman Ilahi menjadi tempat perlindungan dan tempat bernaung bagi segenap jiwa-jiwa, teristimewa para pendosa yang malang. Pada hari itu, lubuk belas kasihKu yang paling lemah-lembut akan terbuka. Aku akan mencurahkan suatu samudera rahmat atas jiwa-jiwa yang menghampiri sumber kerahimanKu.” Begitulah pesan Yesus yang diterima oleh Santa Faustina, penerima anugerah kerahiman Allah. Salah satu gambaran kerahiman disimbolkan dengan “Darah dan Air”. Pikiran kita segera melayang pada kesaksian yang diberikan Yohanes, pengarang injil, yang ketika seorang prajurit di Kalvari menikam lambung Kristus dengan tombak, melihat darah dan air memancar dariNya. Di samping itu, jika Darah mengingatkan kita akan Kurban Salib dan anugerah Ekaristi, maka Air, dalam simbolisme Yohanes melambangkan bukan saja Pembaptisan, melainkan juga karunia Roh Kudus (Dives In Misericordia- Kaya dalam Kerahiman). Pada hari Minggu Kerahiman Ilahi, Setiap orang Katolik dapat memperoleh indulgensi penuh. Syaratnya: Menerima Sakramen Tobat, Menerima Sakramen Ekaristi pada Hari Minggu Kerahiman Ilahi, berdoa dalam ujud Paus. Indulgensi pada Minggu Kerahiman Ilahi diumumkan 29 Juni 2002 dalam Dekrit Penitensiari Apostolik.

Kisah para Rasul memberikan satu gambaran yang menarik, bagaimana umat Kristen perdana menghayati misteri kebangkitan Tuhan. Mereka menikmati damai paskah, yaitu hidup sehati-sejiwa. Setelah mereka merekatkan diri pada Kristus yang bangkit dan mempercayakan seluruh dirinya kepada Tuhan yang mengalahkan maut, mereka benar-benar dipenuhi oleh Roh Kudus, sehingga mereka dapat hidup dalam satu ikatan persaudaraan yang sehati-sejiwa. Setelah memberikan gambaran mengenai cara hidup jemaat perdana itu, Kisah para Rasul juga menampilkan buah-buah yang dipetik dan pewartaan para rasul, khususnya Petrus. Peristiwa penyembuhan digunakan para rasul untuk mewartakan paskah baru dan menarik umat baru agar menjadi pengikut Kristus. Selanjutnya Penglihatan yang dikisahkan Kitab Wahyu sangat menarik: ada tujuh kaki dian dari emas dan seorang Anak Manusia. Orang itu digambarkan berada di tengah kaki dian, Ia menjadi pusat yang menjiwai. Kristuslah pusat Gereja. Kristus menjiwai sekaligus menuntun GerejaNya dalam peziarahan menuju kepenuhan.

“Damai sejahtera beserta kamu”. Ketika salam ini sampai ke telinga para rasul, terjadilah suatu perubahan yang besar dalam diri mereka. Maka tak ada lagi ketakutan yang membingungkan, tak ada lagi kebimbangan dan perdebatan; hati mereka penuh dengan sukacita, sebagaimana dikatakan dalam injil: murid-murid itu bersukacita, ketika mereka melihat Tuhan”. Namun, atas kekurang-percayaan Thomas, Yohanes mengajak para murid untuk melihat dan merenungkan sikap imannya. Thomas tidak mau percaya karena tidak melihat sendiri. Dan ketika Thomas berhadapan langsung dengan Yesus, sebuah pengakuan dan sikap iman ditunjukkan dengan tegas: “Ya Tuhanku dan Allahku!” Pengakuan iman harus nyata dalam sikap iman dan terwujud dalam hidup. Damai Tuhan terlaksana. “Damai Tuhan beserta kamu” yang diucapkan dalam tiap perayaan Ekaristi mengungkapkan segala kebaikan yang kita terima dari Tuhan. Akan tetapi Damai Sejahtera itu baru menjadi milik kita kalau: * Kita taat kepada perintah-perintah Allah . * Damai Sejahtera juga baru menjadi milik kita kalau kita menyatakan kepeduliaan kita kepada saudara-saudari kita yang membutuhkan bantuan kita. Mari kita dengan rendah hati, membuka diri bagi damai sejahtera dan Kerahiman Kristus agar kita dibaharui olehNya dan bangkit menjadi saksi Kristus di tengah dunia.

- Dominikus Beda Udjan, SVD -